Lanjut ke konten

Syarat Belajar Al-Qur’an

IKLASKAN NIAT
NIAT merupakan kata kunci dalam setiap amal perbuatan, termasuk amal dalam rangka mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an. Para ulama salafus sholih, senantiasa memulai setiap tulisan dalam kitab-kitab mereka dengan pembahasan masalah niat. Karena memang niat inilah yang sangat menentukan kualitas amal seseorang, apakah akan diterima atau ditolak oleh Allah SWT. Maka jauh-jauh hari Rasulullah mengingatkan dalam Sabda Beliau, Sesungguhnya hanyalah, segala amal tergantung pada niat. Dan setiap orang akan beramal sesuai dengan apa yang ia niatkan.(HR Bukhori-Muslim)

Fudhail bin ”iyadh berkata, Meninggalkan suatu perbuatan karena manusia adalah perbuatan riya’, melakukan sesuatu karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas adalah tatkala Allah menjaga Anda dari dua penyakit di atas.

Setelah kita memutuskan untuk mengakrabkan diri berinteraksi dengan Al-Qur’an, maka kita harus segera membenahi semua yang ada dalam hati kita, bersihkan segala penyakit hati, murnikan niat hanya karena Allah SWT semata, jangan campuri niat-niat kita karena selainNYA. Mari kita sadari bahwa kita akan segera bergelut dengan firman Allah SWT yang suci dan mulia. Sangat tidak pantas ayat-ayat cintaNYA tercampuri oleh jiwa-jiwa yang kotor

SYARAT BERINTERAKSI DENGAN AL-QURAN

Secara umum– tanpa membedakan apapun jenis ilmunya– para salafush shalih telah meletakkan beberapa syarat mendapatkan ilmu.

Imam Asy-Syafi’i mengatakan dalam sebuah sya’irnya:
Yaa akhiy laa tanalul ilma illa bissittah
dzakaa’, hirshun, wa ijtihad wa bulghoh
shuhbatul ustadz wa thuuluz zaman

Bait syair di atas menegaskan syarat-syarat yang harus ada pada siapa saja yang ingin menuntut ilmu, beriteraksi dengan atau menghafal Al-qur’an, yaitu:

1. Memiliki kecerdasan (dzaka’)

Kecerdasan terbagi menjadi dua: pertama, kecerdasan yang mutlak merupakan pemberian dan anugerah dari Allah swt. Kedua, kecerdasan yang bisa diupayakan oleh manusia, misalnya cerdas dalam mengulang, cerdas dalam mengatur waktu, cerdas dalam menjaga belajar, cerdas dalam memilih tempat dsb.

Kita sadar, setiap kita secara kodrat memiliki tingkat kecerdasan yang tidak sama. Ada orang yang hanya dengan sedikit melihat, mendengar dan membaca, ia langsung bisa menyerapnya. Inilah orang tipe pertama, yang secara kodrat diberikan kecerdasan oleh Allah. Tapi sebaliknya, ada juga orang yang sangat lambat dalam merespon materi yang ia peroleh. Inilah tipe orang kedua. Meskipun demikian, bukan berarti tipe orang kedua adalah orang yang tidak bisa cerdas. Jika ia dengan penuh kesabaran mengusahakan kecedasan tersebut niscaya ia akan cerdas melebihi tipe orang yang pertama.

2.Kemauan/ keinginan keras (hirsh)

Azzam, tekat, keinginan yang kuat adalah kata-kata yang semakna dengan hirsh. Semua itu adalah kesadaran hati untuk melakukan amal yang dikehendaki atau semacam dorongan yang kuat yang senantiasa terdetak dalam hati. Seseorang yang mempunyai kemauan / keinginan, cenderung akan sungguh-sungguh mengupayakan dalam amal perbuatan. Tetapi karena banyaknya godaan yang dihadapi, kemauan tersebut bisa berkurang bahkan lenyap sama sekali dari hati. Maka dari itu, saat ada hirsh kebaikan dalam hati kita, hendahnya segera kita berupaya dengan sungguh-sungguh untuk mengamalkannya.

3.Sungguh-sungguh (ijtihad)

Maknanya secara umum adalah mencurahkan segala potensi dan kekuatan untuk meraih sesuatu yang diinginkan. Tapi yang dimaksud ijtihad di sini (baca: dalam hal interaksi dengan Al-Qur’an) adalah himmah ‘aliyah, mutaba’ah yaumiyah dan banyak muroja’ah (mengulang). Bukan ijtihad dalam pandangan ulama Ushul Fiqih. Atau dengan kata lain ijtihad di sini adalah, bentuk aplikasi dari hirsh (baca: kemauan/ keinginan yang kuat)

Man jadda wa jada. Begitulah pepatah arab mengingatkan kita. Barang siapa bersungguh-sungguh maka ia akan memperoleh hasil dari kesungguhannya tersebut. Cita-cita yang tinggi tidak mungkin dapat diraih hanya dengan keinginan dan angan-angan, akan tetapi keinginan harus disertai kemauan keras dan usaha dengan penuh kesungguhan. Begitu juga halnya dengan belajar dan menghafal Al-Qur’an. Bagi siapa saja yang sungguh-sungguh dalam ”mendekatinya”, niscaya ia akan mendapatkan manisnya buah dari usaha tersebut, berupa ”kedekatan dengan Al-Qur’an”, sehingga ia layak dimasukkan dalam golongan ahlul Qur’an. Tiada balasan yang lebih baik bagi ahlul Qur’an selain Ridho Allah SWT, karena ahlul Qur’an derajatnya disejajarkan oleh Allah dengan para Malaikat dan Nabi yang telah diberi wahyu.

4. Butuh Bekal (bulghoh)

Maksudnya adalah bekal yang bisa menghantarkan sorang thalibul ilmi kepada ilmu yang dicita-citakan. Yaitu bekal berupa tenaga atau harta yang dihasilkan dengan cara dan melalui jalan yang halal. Boleh jadi, secara kasat mata kita telah menghabiskan banyak harta yang kita miliki dalam rangka menuntut ilmu, tetapi harus kita yakinkan bahwa hasil berupa ilmu itu nilainya jauh lebih besar dari harta bahkan dunia seisinya.

5. Berteman Dengan Ustadz ( Shuhbatul Ustadz)

Maksudnya adalah mulazamah dan disiplin mendatangi ustadz atau murabbinya yang akan membawanya ke jalan yang lurus. Menghafal dan mempelajari Al-Quran tidak mungkin dapat dilakukan tanpa guru yang sabar dan tekun di dalam memberikan ilmu dan bimbingannya.

6. Waktu Yang Lama (thuluzzaman)

Sebagian orang mempunyai minat thalabul ilmi hanya sementara. Pada awalnya memiliki semangat menghadiri majlis, mendatangi ustadz dengan penuh kesungguhan, mencurahkan harta dan tenaganya, kemudian setelah melewati beberapa saat semangat itu pudar.
Menuntut ilmu tidak cukup hanya dengan menghadiri majlis sekali atau dua kali, sebulan atau dua bulan, ia memerlukan waktu yang lama, kesabaran dan ketekunan. Imam Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’abil Iman dari Abdullah bin Mubarak, ia berkata:

“Ilmu tidak akan dapat diraih kecuali dengan meluangkan waktu, harta, menghafal dan waro’.”(http://ltq-ibadurrahman.blogspot.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: